Literatur mengenai arsitektur lokal Sunda dapat dikatakan masih sangat langka; jika ada ternyata masih sangat terbatas dan kurang dalam. Buku khusus tentang arsitektur malah tidak ada, yang ada cenderung berupa catatan antropologis yang masih spekulatif. Sejauh ini belum ada metodologi yang dapat digunakan untuk membaca konsep bentuk dan makna arsitektur masyarakat Sunda, apalagi dalam konteks perubahan. Tidak juga ada telaah teoretik maupun empirik yang menggabungkan keduanya, sehingga interpretasi terhadap arsitektur Sunda tidak lengkap dan tidak menyeluruh.
Keterbatasan studi mengenai arsitektur Sunda seakan-akan terasa tambah sulit karena tidak ada peninggalan artefak istana atau kraton. Kropak (manuskrip, catatan) yang ada hanya berupa karya sastra-berupa naskah maupun sastra lisan-tentang kehidupan sehari-hari. Warisan budaya Sunda memang terbukti cenderung hanya pada budaya literal, antara lain bahasa, tari, seni pertunjukan, musik; sebaliknya artefak-berupa bangunan dan ornamennya-sangat jarang ditemukan. Oleh karena itu telaah terhadap arsitektur Sunda perlu dilakukan terus menerus.
Dipicu kelangaan literatur tersebut, juga kesadaran bahwa konsep bentuk dan makna arsitektur lokal sangat penting terhadap arah perkembangan lanjut arsitektur lokal dalam konteks perubahan global, saya menyusun buku ini berdasar pada penelitian terhadap tiga kasus studi arsitektur lokal sunda. Kasusnya dipilih secara purposive agar dapat merepresentasikan kondisi arsitektur masyarakat sunda yang ada beserta dinamika perubahannya. Hasilnya semoga dapat menjadi rujukan, jika bukan merupakan langkah awal, bagi pengembangan strategi survival arsitektur Sunda dalam menghadapi perubahan global.
Penulis: Purnama Salura
Penerbit: Universitas Atmajaya






