Santri Sableng, Sebuah catatan dari Bilik Pesantren
Kata Pengantar: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan
Kita past ingat dengan Wiro Sableng, pemilik kapak naga geni 212. Walaupun selengekan, tapi dia sosok yang cinta damai, pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan. Karakter tersebut tak jauh berbeda dengan Santri Sableng yang ditokohkan Ridho Al-Hamdi melalui buku ini.
Pesantren kerap dilekatkan dengan sekelompok anak muda berkopiah, bersarung, berjilbab yang membawa Al-Qur'an atau buku-buku Arab, yang fasih berbahasa Arab, dan lain sebagainya. Namun, penulis buku ini melukiskan sosok santri yang lain. Santri yang melakukan kritik terhadap segala kejanggalan yang terjadi di bumi pesantren, baik dari sistem pengajarannya yang masih memasung kreativitas anak, kehidupan sehari-hari yang jorok, hingga santri yang hombreng alias homo bareng, hehehe... Nampaknya kita masih terlalu menganggap 'suci' pesantren sehingga "borok-borok"-nya terlupakan. Buku ini cocok buat pengamat pendidikan, pengajar di pesantren, wali santri, para santri, dan siapa saja yang ingin melihat pesantren dari sudut yang berbeda.
Penulis: Ridho Al-Hamdi
Penerbit: Leutika