Sosial
Dua Dunia Dalam Satu Warna
Kronik Etnis Cina di Kota Besar dan Kota KecilDalam lingkungan etnis Cina di kota besar, golongan bawah adalah mereka yang kehidupannya masih kembang-kempis. Bukannya mereka malas atau kurang tekun, namun faktor nasib yang membuat mereka seperti itu. Dewa keberuntungan belum mau mendekati mereka. tapi orang-orang ini juga pantang menyerah. Usaha demi usaha dilakukan untuk memperbaiki ‘hoki’ mereka, agar bisa sejajar dengan golongan atas, atau setidaknya golongan menengah.
Pekerjaan apapun akan mereka lakukan dengan satu pegangan hidup: kejujuran.
Pergaulan merupakan suatu keharusan bagi kalangan cina dalam menjalankan bisnisnya. Relasi baru bisa dijalin melalui pergaulan yang luas serta persahabatan bahkan persaudaraan. Namun tak jarang pula persahabatan ini retak hanya karena persaingan bisnis.
Potongan-potongan kisah ini bukanlah sebuah asumsi, tapi hasil sebuah pengamatan langsung yang cukup panjang, yang dilakukan langsung cukup panjang, yang dilakukan oelh Fransisca Theresia. Dia mencoba menyeruak ke dalam lingkungan etnis yang dikenal 'tertutup' itu dan menyajikan untuk kita dalam suatu novelet yang ringan tapi berisi.
Penulis: Fransisca Theresia
Penerbit: Creativ Media
Budaya Organisasi
Kajian Konsep dan Implementasi
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan budaya organisasi? Sebagaian besar usahawan sulit untuk menemukan kata untuk menjelaskan konsep ini, sementara ada sebagian orang yang mendefinisikan sebagai “pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma bersama yang menjadi karakter suatu organisasi.”
Bagaimanakah dengan organisasi kita? Apakah kita mampu mengenali budaya organisasi kita sendiri? Dan mampukah atmosfir budaya tersebut berpacu ditengah-tengah lingkungan usaha yang begitu cepat berubah? Bahkan mungkin apabila kita mengenali lebih jauh budaya perusahaan yang sudah terbentuk selama ini, dapatkah dioptimalkan untuk mendukung setiap strategi baru dengan baik?
Penyusunan buku ini bertujuan untuk membantu para pembaca dalam proses memahami/mendalami tentang konsep budaya organisasi dan penerapannya dalam organisasi.
Penyusu mendeskripsi buku ini sebagai media untuk membahas konsep budaya organisasi yaitu budaya sebagai suatu ide tradisional, turun menurun, tertanam pada nilai, kebiasaan (kepercayaan, pengetahuan, seni, moral, adat istiadat), pola eksplisit dan implisit perilaku kelompok manusia atau organisasi sebagai sistem makna bersama/pesepsi yang dianut oleh anggota-anggota organisasi dalam suatu organisasi.
Penulis: Prof. Dr. F.X. Suwarto, M.S., Drs. D. Koeshartono, M.M.
Penerbit: Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Revolusi Peradaban
Mencari Tuhan dalam batang tubuh ilmu
Buku ini adalah karya terbaru penulsi produktif dalam bidang filsafat. Buku yang disusun dosen Pascasarjana STAIN Cirebon ini, telah mengetengahkan labirin hidup manusia yang selalu diametral. Mensimetrikan kehidupan manusia yang berjalan dalam dunia terang di kegelapan dan menciptakan kegelapan dalam dunia yang terang. Berpolarisasi dalam irama hidup yang sepi dalam keramaian dan ramai dalam kesepian.
Mencitrakan diri manusia sebaai genus unik sekaligus antik. Mencitrakan manusia sebagai pembrontak Tuhan dan sekaligus pembangun citra Tuhan di bumi.
Buku ini sangat dialektis. Misalnya penulis menyajikan bahwa saat ini saintis seolah telah mampu membikin Tuhan menjadi linglung. Ia seolah dibikin tidak berdaya ketika berhadapan dengan mahluk ciptaan-Nya dengan genus manusia. Tuhan seolah tidak mampu memprediksi manusia yang semula tumbuh dari balutan kecil dan hina, tiba-tiba besar dan digjaya serta "mengancam" eksistensi diri-Nya. Ancaman-Nya bukan datang dari Syetan yang sombong dan sempat dikutuknya, tetapi justru dari manusia yang semula menjadi kebanggaan ciptaan-Nya.
Progresivitas manusia yang demikian, terjadi karena akal manusia kini telah tumbuh tanpa batas. Akal manusia seolah mampu melakukan desakralisasi dengan mencairkan segala kebekuan dan memfaktakan segala khayalan. Dalam kasus tertentu, akal manusia bahkan tumbuh menjadi Tuhan. Manusia bukan saja merasa mampu menggoyang kursi dan Arasy Tuhan, tetapi kini seolah mampu merebutnya. Manusia merasa lebih suka bersekutu dengan iblis yang selalu tertawa dalam suasana kebatinan Tuhan yang gelisah.
Sains seolah harus terus dianggap sedang bertanding dengan agama. Keduanya persis seperti pertandingan para dokter spesialis dengan para Malaikat pencabut nyawa. Ijrail mempersiapkan peralatan kematian, sementara dokter mempersiapkan teknologi modern untuk mengalahkan Ijrail dan menghindarkan diri dari kematian yang mengintai dirinya.
Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan Adam-nenek moyang peradaban manusia-yang telah susah payah meletakkan dasar-dasar peradaban manusia di bumi. Apakah ia tersenyum diu surga menyaksikan anak cucu modernya, sambil bangga dan terbahak sekaligus sinis menguyoni bangsa Malaikat, Syetan dan Jin yang menolak keinginan Tuhan untuk menciptakan bani Adam sebagai khalifah di bumi? Atau mengerutkan keningnya sambil turut bersedih dan terpaksa menyesal Melahirkan keturunannya.
Di balik semuanya, penulis akhirnya menyodorkan gagasan betapa pentingnya manusia menciptakan keheningan yang selalu berusaha mencari simetri kehidupan. Ada trilogi hidup yang senantiasa harus dibangun manusia. Manusia pada akhirnya butuh alam, butuh sesama manusia, terlebih butuh keagungan Tuhan. Karenanya, buku ini layak dibaca siapa saja yang hendak mencari kebenaran.
Penulis: Prof. DR. H. Cecep Sumarna
Penerbit: Mulia Press
Filsafat Ilmu
Dunia ternyata tidak seindah seperti yang terlihat. Tidak seeksis seperti yang terbayangkan. Bahkan tidak sesempurna yang terpikirkan. Dunia abadi dalam kesementaraannya, dan eksis dalam ketidakmengertiannya.
Lakon historis manusia di bumi, bukan saja unik, tetapi sekaligus misterius. Bayangkan kemakmuran hanya mendorong manusia ke ranah kemiskinan. Kedamaian selalu diperjuangkan dengan peperangan. Kebebasan diperjuangkan dengan kekerasan. Kehidupan ditumbal dengan kematian. Bahkan kemakmuran digadaikand dengan kemiskinan.
Agama bukan saja disandera dan dieksploitasi, tetapi, sekaligus dibeli untuk dijual. Diperdagangkan bukan saja dimimbar masjid dan dijalanan dengan selendang dan simbol kecendekiaan. Tetapi, ia digadai untuk kemudian dijual, di lembaga nyentrik kenegaraan.
Kerukunan menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Manusia menjadi monster bagi manusia lain. Ekslusivitas telah menjadi ciri nyata, bukan hanya bagi ekslusivisme, tetapi juga bagi kaum inklusif. Inklusivitas malah tumbuh menjadi kelompok ekslusive dalam inklusivitasnya. Ia tidak lagi menjadi toleran terhadap orang yang tidak seide dengannya.
Filsafat ilmu hadir, bukan hanya untuk membongkar ilmu. Tetapi, secara talenta, ia mengajarkan nilai etik-simetrik dalam kesemestaan yang plural. Benar tidak berarti benar. Seperti juga salah, tidak berarti benar-benar salah. Filsafat ilmu mengajarkan betapa pentingnya hdup di alam terbuka. Bebas untuk dilihat dan diekspresikan pihak lain.
Penjara fisik tidak lebih fatal dari penjara aka. Tetapi, jauh lebih parah, jika yang terpenjara adalah hati nurani. Hti yang mengajrkan kebenaran melebihi batas-batas kebenaran empiris, rasional sekaligus mungkin gamis. Filsafat ilmu mengajarkan, agar terus mempertanyakan dimensi why, sehingga setiap orang yang dituntut masuk dalam logika orang. Bukan sebaliknya. Memaksa orang dalam logikanya.
Penulis: DR. Cecep Sumarna
Penerbit: Mulia Press Bandung
Bangor
Komik Garing Aseli Bandung
Cakung, Cepi, sama Alit itu siswa sma negeri bageur bandung. Mereka bertiga dijuluki trio bangor. Konon mereka memang badung, bandel dan kerjanya bikin onar.
Iya gituh? Padahal, ada ’sesuatu’ yang bikin cakung berubah (jadi ‘gila’, kalau menurut cepi dan alit). Apalagi kalau bukan..
Gimana reaksi Cepi dan Alit ngelihat sohibnya yang error?
Terus berhasil, ga’sih cakung dapetin apa yang dia pengen?
Kamu.. mesti baca komik ini.. (kalo beli lebih bagus lagi tuh)





