Revolusi Peradaban

Revolusi Peradaban

Mencari Tuhan dalam batang tubuh ilmu

Buku ini adalah karya terbaru penulsi produktif dalam bidang filsafat. Buku yang disusun dosen Pascasarjana STAIN Cirebon ini, telah mengetengahkan labirin hidup manusia yang selalu diametral. Mensimetrikan kehidupan manusia yang berjalan dalam dunia terang di kegelapan dan menciptakan kegelapan dalam dunia yang terang. Berpolarisasi dalam irama hidup yang sepi dalam keramaian dan ramai dalam kesepian.

Mencitrakan diri manusia sebaai genus unik sekaligus antik. Mencitrakan manusia sebagai pembrontak Tuhan dan sekaligus pembangun citra Tuhan di bumi.
Buku ini sangat dialektis. Misalnya penulis menyajikan bahwa saat ini saintis seolah telah mampu membikin Tuhan menjadi linglung. Ia seolah dibikin tidak berdaya ketika berhadapan dengan mahluk ciptaan-Nya dengan genus manusia. Tuhan seolah tidak mampu memprediksi manusia yang semula tumbuh dari balutan kecil dan hina, tiba-tiba besar dan digjaya serta "mengancam" eksistensi diri-Nya. Ancaman-Nya bukan datang dari Syetan yang sombong dan sempat dikutuknya, tetapi justru dari manusia yang semula menjadi kebanggaan ciptaan-Nya.
Progresivitas manusia yang demikian, terjadi karena akal manusia kini telah tumbuh tanpa batas. Akal manusia seolah mampu melakukan desakralisasi dengan mencairkan segala kebekuan dan memfaktakan segala khayalan. Dalam kasus tertentu, akal manusia bahkan tumbuh menjadi Tuhan. Manusia bukan saja merasa mampu menggoyang kursi dan Arasy Tuhan, tetapi kini seolah mampu merebutnya. Manusia merasa lebih suka bersekutu dengan iblis yang selalu tertawa dalam suasana kebatinan Tuhan yang gelisah.
Sains seolah harus terus dianggap sedang bertanding dengan agama. Keduanya persis seperti pertandingan para dokter spesialis dengan para Malaikat pencabut nyawa. Ijrail mempersiapkan peralatan kematian, sementara dokter mempersiapkan teknologi modern untuk mengalahkan Ijrail dan menghindarkan diri dari kematian yang mengintai dirinya.
Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan Adam-nenek moyang peradaban manusia-yang telah susah payah meletakkan dasar-dasar peradaban manusia di bumi. Apakah ia tersenyum diu surga menyaksikan anak cucu modernya, sambil bangga dan terbahak sekaligus sinis menguyoni bangsa Malaikat, Syetan dan Jin yang menolak keinginan Tuhan untuk menciptakan bani Adam sebagai khalifah di bumi? Atau mengerutkan keningnya sambil turut bersedih dan terpaksa menyesal Melahirkan keturunannya.
Di balik semuanya, penulis akhirnya menyodorkan gagasan betapa pentingnya manusia menciptakan keheningan yang selalu berusaha mencari simetri kehidupan. Ada trilogi hidup yang senantiasa harus dibangun manusia. Manusia pada akhirnya butuh alam, butuh sesama manusia, terlebih butuh keagungan Tuhan. Karenanya, buku ini layak dibaca siapa saja yang hendak mencari kebenaran.

Penulis: Prof. DR. H. Cecep Sumarna
Penerbit: Mulia Press

Rp. 50,000.00Price:
Loading Updating cart...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>