Umum
Teknik Penulisan Naskah Acara Siaran Radio
Penulis: Antonius Darmanto
Penerbit: Universitas Atmajaya
Menegakkan Kemandirian Yudisial
Penulis: Dr. Gunarto Suhardi, SH
Penerbit: Universitas Atmajaya
The Globalization of Nothing (alih bahasa)
Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi
Dalam sebuah dunia yang semakin banyak dihiasi dengan logo-logo yang tidak asing lagi, dari tanda desis pada sepati rancangan desainer sampai logo telinga tikus dari taman hiburan tidak terkenal, jelas bahwa simbol-simbol ini tidak semata-mata berseifat dekoratif, namun juga mewakili perubahan-perubahan penting dalam lingkungan pergaulan sosial kita.
Perkembangan pesat penawaran-penawaran kartu kredit, pelayanan-pelayanan bank secara otomatis, dan merek-merek yang dapat dikenali secara global melukiskan perubahan-perubahan signifikan dalam dunia konsumsi sosial: sebuah lintasan menuju dunia yang semakin dipenuhi dengan pelayanan-pelayanan dehumanis dan tempat-tempat kosong serta benda-benda.
Teori-teori George Ritzer dalam buku terbarunya yang provokatif, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi atau Globalisasi Ketiadaan, bahwa "narasi besar" atau ksiah masyarakat pada zaman ini, merupakan sebuah gerakan dari "sesuatu" menuju "ketiadaan". Dengan mengandalkan namun melampaui tesis McDonaldisasinya yang termashyur, Ritzer berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat di bumi ini terus bergerak dari "sesuatu", yang didefenisikan sebagai sebuah bentuk sosial yang umumnya dipahami sebagai, dikontrol secara likal, dan kaya akan isinya yang khas. Ritzer memperlihatkan bahwa kita sedang bergerak menuju "ketiadaan" - yang dikontrol dan disusun secara terpusat dan relatif tanpa substansi yang khas. Dalam gerakan menuju globalisasi "ketiadaan" inilah "sesuatu" menjadi hilang. Lebih dari itu, bahwa "sesuatu" merupakan sebuah kebiasaaan asli, sebuah toko lokal, sebuah tempat berkumpul yang akrab, atau interaksi yang personal. Jadi, persoalan utama di dunia saat ini didefenisikan sebagai "kehilangan di tengah-tengah kelimpahan monumental (dari ketiadaan)"
Penulis: George Ritzer
Ziarah Arsitektural Katedral ST.Petrus Bandung
Buku Kecil ini merupakan terobosan besar dalam kepustakaan arsitekur Indonesia. Wacana arsitektur Indonesia Pantas bergembira dengan kehadiran buku yang mungil dan manis ini, yang dengan penuh kerendahan hati menyampaikan pengalaman dan pengetahuan tentang karya arsitektur.
Namun justru karya seperti inilah yang mampu melintasi batas-batas disiplin keilmuan serta langsung menjangkau khalayak ramai untuk menggairahkan apresiasi masyarakat luas terhadap arsitektur. Pekerjaan ini mesti dilanjutkan, masih banyak karya arsitektur lain yang harus di"ziarah"i. (Sutrisno Murtyoso LSAI)
Kegiatan beberapa anak muda yang patut dibanggakan dan didukung. Sangat Jarang anak muda di Indonesia yang berbuat demikian, mungkin karena tidak ada modal. (B. Martono Hidayat - Orgelbauer).
Mencermati dan mengamati buku "Ziarah Arsitektural Katedral ST.Petrus Bandung" sungguh membuat pandangan mata kami kagum. Pilihan teks, komposisi grafis dan editorial sungguh cermat dan sangatlah profesional, layaknya buku impor. Judul buku ini sangatlah mengajak pembaca untuk menelusuri lorong pandang arsitektur . beberapa catatan sejarah, latar belakang rancang bangunan dan elemen-elemen gereja cukup menggambarkan urutan-urutan pendirian dan isi dari bangunan katedral ini. (Yeo Bun Yong - arsitek)
Penulis: The Thinkers
Penerbit: Foris Publishing
Planet Smarta #1
Pembelaan Untuk Bumi
Kisah petualangan mahluk cerdas luar angkasa yang spektakuler
Dari sebuah planet di luar tata surya bernama Smarta kisah ini dimulai. Masyarakat Smarta adalah masyarakat yang sangat kompak dengan ikatan rasa persaudaraan yang kuat diantara suku-sukunya. Revolusi di Smarta diawali dengan ditemukannya teropong Esensi, sebuah alat yang dihubungkan dengan monitor dan mampu melihat dengan jelas semua gerak dan warna dari setiap esensi yang dipancarkan oleh setiap materi.
Esensi Materi yang dibumi disebut Aura, diketahui oleh bangsa Smarta ternyata merupakan Identitas dari setiap Materi. Mereka mendokumentasikan Nama Esensi dari setiap unsur terkecil materi menggunakan Bahasa Warna, sehingga satu warna yang merupakan campuran persentase dari warna dasar biru, merah, kuning, dan hitam mewakili satu nama Esensi dari satu jenis unsur terkecil materi. pengenalan identitas materi yang sangat mendetail ini melahirkan berbagai kemajuan spektakuler.
Dalam dunia kesehatan mereka menemukan alat deteksi secara cepat dan akurat untuk menemukan sumber penyakit didalam tubuh, karena semua esensi dalam tubuh dapat bercerita sendiri tentang bagian mana dari elemen tubuh yang menjadi sumber penyakit. Teknik-teknik pengobatan berkembang sangat pesat, termasuk teknik subsitusi esensi untuk menetralisir atau meniadakan sama sekali esensi yang mengganggu kesehatan.
Dalam dunia industri dan transportasi telah lahir revolusi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka tidak lagi mengandalkan bahan bakar minya, gas atau listrik untuk menggerakkan mesin-mesin, melainkan memanfaatkan enersi kintik dari hasil rekayasa pengolahan esensi tertentu yang telah tersedia di alam.
Langit Smarta selalu ramai oleh piring terbang dan penduduknya dapat terbang bebas kemanapun mereka mau tanpa perlu visa maupun paspor antar wilayah karena mereka adalah mahluk bebas yang merdeka.
Bagaimana cerita selengkapnya tentang mahluk hebat ini ? Apa yang mereka lakukan setelah datang ke Bumi ? Dan bagaimana akhirnya jika mereka harus memperkenalkan diri kepada manusia Bumu karena suatu peristiwa yang tak terduga sebelumnya ? Baca buku ini, anda akan menemukan banyak hal baru di dalamnya meski masih sebatas khayalan; khayalan yang mungkin menjadi kenyataan di abad-abad mendatang !
Penulis: Sis 1 2





